Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MEMILIH LURAH AWARDEE LPDP UGM

MEMILIH LURAH AWARDEE LPDP UGM

Oleh : Junardi

Terus Berjuang ~ Semanjak pendaftaran calon lurah UGM dibuka tanggal 07 – 10 November 2016, lonceng demokrasi menggema di kalangan awardee LPDP UGM. Sebuah festival demokrasi intelektual yang dilaksanakan oleh kalangan terdidik yang mendapatkan kepercayaan oleh Negara sebagai pemikul harapan masa depan bangsa Indonesia. Yang berbeda dari suksesi ini adalah bahwa semua kalangan yang akan terlibat merupakan putra-putri terbaik bangsa ini yang berasal dari seluruh pojok Indonesia. Tentunya ada harapan berbentuk keteladanan dalam suksesi demokrasi ini. Harapan untuk menjadi contoh dan rujukan dalam festival-festival demokrasi lainnya yang diselenggarakan di negeri ini.

Baca Juga:  Menghasilkan uang melalui internet dengan Google Adsense

MEMILIH LURAH AWARDEE LPDP UGM
Saya dari awal memprediksi bahwa hanya akan ada satu atau dua orang yang akan mendaftarkan diri menjadi calon lurah UGM, karena factor kesibukan akademik dalam rangka memenuhi standar LPDP. Akan tetapi ternyata prediksi saya melenceng jauh karena sampai waktu ditutupnya pendaftaran ada lima orang yang mendaftar sebagai calon lurah. Menurut saya, ini adalah sebuah angka maju untuk menepis pesimisme saya. Alasan pesimisme saya adalah bahwa menjadi lurah merupakan tanggungjawab yang berat dan mungkin mengganggu proses akademik awardee. Saya ingin mengutip kata-kata indah KH. Rahmat Abdullah yang sering sekali kita jumpai di buku-buku motivasi :
“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya. Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. Ketika orang mengadu kau bertanggungjawab, itulah repotnya. Oleh karena itu tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan Imperium kebenaran”
Saya membayangkan seorang lurah nantinya akan tidur/
istirahat lebih sedikit dari awardee biasanya, akan memikirkan, merencanakan, menyiapkan dan mengerjakan yang tidak dilakukan oleh awardee pada umumnya, akan kehilangan banyak waktu-waktu santai dan waktu-waktu untuk urusan pribadinya, akan bertanggungjawab untuk hal-hal yang menjadi beban awardee yang lain, bahkan harus menanggung rasa bersalah jika kurang maksimal dalam memberikan pelayanan, padahal bisa saja memilih untuk tidak menjadi lurah dan bebas dari seluruh hal-hal yang saya sampaikan diatas.
Angka lima orang yang mendaftar menjadi calon lurah UGM merupakan kemajuan besar, karena menjadi lurah addalah panggilan tanggung jawab, panggilan pengabdian. Pilihan untuk mengambil tanggungjawab bukanlah pilihan yang sepele, karena tanggungjawab menjadi lurah adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada awardee, LPDP dan Tuhan Yang Maha Esa. Lima orang yang mendaftar harus kita lihat sebagai kesan positif, bahwa masih ada anak-anak muda terdidik yang berani mengambil tanggungjawab, memiliki semangat mengabdi dan keberanian mengambil peran besar dalam kondisi Indonesia yang krisis kepemimpinan hari ini. Angka lima dalam bursa pemilihan lurah Ini harus mendongkrak optimisme dan rasa saling percaya diantara kita bahwa setiap kita memiliki kepedulian dan potensi untuk mengambil peran-peran dalam pengabdian, baik sekarang dan pada masa yang akan datang di tengah masyarakat.
Salah satu yang ingin saya garis bawahi dalam tulisan ini adalah bahwa identitas Intelektual sebagai awardee LPDP yang melekat pada diri kita haruslah menjadi alasan bagi kita untuk membuat kesan hebat dalam suksesi pemilihan lurah ini. Parade demokrasi ini harus kita maknai sebagai festival intelektual, bukan sebuah festival politik. Ketika kita memaknainya sebagai sebuah festival Intelektual, maka asal daerah, suku, bahasa, etnis, dan karakter khas yang melekat pada setiap awardee tidak akan menjadi batasan dan alasan bagi kita untuk menyalurkan hak pilih kita. Tentunya ketika kita memaknai suksesi ini sebagai festival politik, maka tentunya kita akan memaklumi proses-proses yang tidak mewakili identitas intelektualitas kita dalam prosesi pemilihan ini. Darimanapun kita berasal, kita harus satu dalam suksesi ini, yaitu kita harus merasa menjadi satu Indonesia. Kita tidak boleh terbatas oleh sekat-sekat territorial, tidak boleh terpisah oleh perbedaan suku, budaya, bahasa dan karakter kedaerahan, karena kita sudah harus selesai dengan itu semua. Ketika kita sudah merasa menjadi satu Indonesia, maka darimanapun daerah asal calon lurah, apapun suku, bahasa dan aksara calon lurah menjadi tidak penting dan tidak boleh mengganggu kita untuk mempercayakan amanah menjadi Lurah ini kepada orang yang tepat dan memiliki kemampuan untuk menakhodai kelurahan Awardee LPDP UGM satu tahun kedepan. Kemampuan kita untuk mempercayakan tanggungjawab ini kepada orang yang tepat adalah amanah kita semua dalam suksesi ini dan dalam menghadirkan keteladanan dalam sebuah proses demokrasi.
Di akhir tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kelima calon lurah yang telah memberikan pelajaran kepada saya dan kita semua tentang “Mengambil Peran”, dan juga telah rela mengajukan diri menjadi “Pengambil tanggungjawab” atas semua hal yang akan terjadi pada saya dan semua awardee UGM selama setahun ke depan. Teman-teman calon telah menginspirasi saya dan kami semua karena teman-teman calon lurah berani menyiapkan pundak-pundak terbaik untuk memikul semua masalah kami selama setahun ke depan.
Kepada semua teman-teman awardee UGM, saya berpesan agar kita menjadikan suksesi ini sebagai sebuah festival yang akan meninggalkan kesan dan pesan keteladanan baru dalam dunia demokrasi kita. Datang untuk memilih adalah hal kecil, tapi itulah cara kita mengambil peran. Jika kita masih apatis, kapan kita akan berbenah?. Jika kita tidak menghargai prosesi ini, lalu bagaimana kita menghargai kebersamaan kita dalam satu bendera Awardee LPDP dan secara khusus di UGM?. Kontribusi kita dalam pemilihan ini mungkin tidak akan terlalu berimbas kepada bangsa kita, tapi disinilah kita akan memulai peran kecil kita untuk bersinergi dengan peran-peran kecil saudara-saudara kita yang lainnya di belahan lain Indonesia. Dan akumulasi peran-peran kecil positif yang saling bersinergi inilah sesungguhnya yang menjadi harapan Indonesia. [selesai]
“Yuk Memilih Lurah”
Yogyakarta, 24 November 2016
Penulis adalah Koordinator PK-77 Region Joglosemar (Jogja, Solo, Semarang) dan Mahasiswa Magister Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan Sekolah Pascasarjana UGM.

Baca juga: 72 TAHUN MENJADI INDONESIA


Posting Komentar untuk "MEMILIH LURAH AWARDEE LPDP UGM"

Mohon bantu Subscribe juga Channel Youtube Author ya sahabat Tebe. Semoga channel Author bisa berkembang. Jangan Lupa SUBSCRIBE karena subscribe itu GRATIS. Makasih Banyak. ^_^

Berlangganan via Email